Monolog Gagal Terbit


ini naskah gue yang gagal Terbit.

ini naskah gue yang gagal Terbit.

Awalnya, gue kira menerbitkan buku itu perkara gampang-gampang susah. Apa lagi kalo sudah lama menekuni dunia blogg sampai bertahun-tahun. Otomatis, kalo blogger sesepuh, sudah punya pembaca tetap. Berarti punya fans base tersendiri. Punya segmen, pembaca yang bisa dituju. Marketnya sudah terbentuk.
Ada jejak pendapat, yang menyebutkan. Kualitas tulisan, bisa di bilang semakin matang, kalo semakin tinggi jam terbangnya. Blogg itu kalo di konsep secara serius. Betul-betul bisa menjadi sebuah brand, lho. Banyak blogg, yang punya karakter unik yang berujung pada ganjaran kontrak penerbitan.

Baca lebih lanjut

Hunyi di Kota Apel


Kampus UM 2. Foto: @NotedCupu Megalau

Kampus UM 2. Foto: @NotedCupu Megalau


Dek, rasanya hari ini, kamu begitu jauh. Sejak hari sabtu yang lalu kita memang ndak ada kata “Hallo” lagi. Mungkin saja, hari ini puncaknya. Apa yang aku harapkan, perlahan sirna. Omongan manis, di awal-awal dulu yang pernah terucap, bergeser menjadi puing-puing kenangan. Aku rindu sekali, dengn panggilan “Hunyii…  dan suara-suara rengekan manjamu. Tadi siang, sewaktu aku mampir di kosmu, kamu tampak cantik. Sungguh!. Ada gelang warna ke emasan, yang melingakari lengan kananmu. Aku dulu pernah berucap, aku suka atas ke serdahaanmu yang polos-polos saja…

Baca lebih lanjut

Ada Kasta dalam Kemeja


Kemeja Lengan Pendek. Di singkat jadi; Keledek

Kemeja Lengan Pendek. Di singkat jadi; Keledek


Di masa era perjuangan ‘45-an, tentunya, ketika masih jaman Walondo (Penjajahan Belanda) masih bersliweran di nusantara. Apa-apa serba terbatas. Makanan, masih berupa nasi kerok jangan (sayur) lembayung. Pakaian, masih ala kadarnya berupa, suwal goni (kain dari sobekan karung) yang melilit di tubuh. Pada masa itu, sandang (pakaian), pangan (makanan), serba defisit, nan kekurangan. Rasanya, kisah klasik pribumi terlahir, dari masa penjajahan Belanda. Contoh sederhananya, kerja tanam Romusa.
Umur Republic semakin menua. Di barengi dengan, saksi sejarah yang kian langka termakan zaman. Beruntung banget, nenek gue masih fasih ketika gue tanya seputar zaman kedigdayaan nyonya Menir. Ho’oh. Kemungkinan besar, Simbahku iki, salah satu saksi kunci sejarah, yang masih berumur panjang, di kabupaten Trenggalek, khsusnya daerah kota Panggul. Sewaktu gue tanya, tentang pemberontakan G30-SPK-I di tanah kelahirannya, simbah ki masih lancar bercerita ngalor-ngidol. Padahal, umure wes tembus 80 tahun ke atas, ancen wes sepuh tenan.

Baca lebih lanjut

Motor Tua Berjasa


weduse

ilustrasi cuah!

 

Bagi seorang bapak tukang Ojek, motor diberdayakan untuk menggaet penumpang guna mencari setangkup rezeki. Bagi Pak tukang becak, motornya Pak Ojek adalah pesaing di medan laga, dalam memperebutkan penumpang. Namun bagi, bapak gue, motor hanyalah besi tua yang berfungsi untuk menerobos jalan terjal, melewati gurun, melewati lembah… Tapi bapaku bukan Ninja Hatori, jeh.
Alat transportasi seperti, motor. Pada umumnya, digunakan sebagai alat transportasi, untuk mengangkut barang, dan jasa. Namun, hal itu tidak berlaku bagi bapak. Dengan besi tuanya, bapaku iki, naik motor sambil  bonceng  wedus. Mungkin, sampean mengira bapaku iki, spesilisasi tukang ojek hewan. Khusunya wedos (kambing). Bukan, bukan. Baca lebih lanjut

Kisah Klasik Pribumi di Hari Lebaran


sumber karikatur: indocsdotnet.blogspot.com

sumber karikatur: indocsdotnet.blogspot.com

Setiap menjelang lebaran atau menjelang bulan suci ramadhan. Harga-harga kebutuhan perut s’lalu merangkak naik. Patut diduga….  Ada yang memang secara sengaja membuat ulah dengan memainkan harga. Atas kejadian ini, dipihak pembeli tekor karna biaya kebutuhan membengkak.

Kemunculan fenomena klasik kisah pribumi ini dibarengi dengan munculnya; Berita-berita di media elektronik, yang slalu mewawancarai ibu-ibu sedang membeli di pasar, sebagai narasumber utamanya. Mereka (ibu-ibu = simbok-simbok), memanfaatkan, perannya sebagai narasumber dengan ngomel, bahkan curhat atas persoalan yang membelitnya. Ah, untunglah, mereka bisa meluapkan kekesalannya melalui frekuensi public…

Suami pun, tak jadi korban luapan kekesalan…

Baca lebih lanjut