Motor Tua Berjasa


weduse

ilustrasi cuah!


Bagi seorang bapak tukang Ojek, motor diberdayakan untuk menggaet penumpang guna mencari setangkup rezeki. Bagi Pak tukang becak, motornya Pak Ojek adalah pesaing di medan laga, dalam memperebutkan penumpang. Namun bagi, bapak gue, motor hanyalah besi tua yang berfungsi untuk menerobos jalan terjal, melewati gurun, melewati lembah… Tapi bapaku bukan Ninja Hatori, jeh.
Motor pada umumnya, diguanakan sebagai alat tranportasi, untuk mengangkut manusia. Namun, hal itu tidak berlaku bagi bapak. Dengan besi tuanya, bapaku iki, naik motor sambil  bonceng  wedus. Mungkin, sampean mengira bapaku iki, spesilisasi tukang ojek hewan. Khusunya wedos (kambing). Bukan, bukan. Baca lebih lanjut

Kisah Klasik Pribumi di Hari Lebaran


sumber karikatur: indocsdotnet.blogspot.com

sumber karikatur: indocsdotnet.blogspot.com

Setiap menjelang lebaran atau menjelang bulan suci ramadhan. Harga-harga kebutuhan perut s’lalu merangkak naik. Patut diduga….  Ada yang memang secara sengaja membuat ulah dengan memainkan harga. Atas kejadian ini, dipihak pembeli tekor karna biaya kebutuhan membengkak.

Kemunculan fenomena klasik kisah pribumi ini dibarengi dengan munculnya; Berita-berita di media elektronik, yang slalu mewawancarai ibu-ibu sedang membeli di pasar, sebagai narasumber utamanya. Mereka (ibu-ibu = simbok-simbok), memanfaatkan, perannya sebagai narasumber dengan ngomel, bahkan curhat atas persoalan yang membelitnya. Ah, untunglah, mereka bisa meluapkan kekesalannya melalui frekuensi public…

Suami pun, tak jadi korban luapan kekesalan…

Baca lebih lanjut

Sarungmu Membunuh Sapi


si Tunjung (Sok Imut)
si Tunjung (Sok Imut)

Bagi umat islam, bulan puasa seperti sekarang ini, mementum yang tepat untuk memburu pahala sebanyak-banyaknya. Perburuan pahala ini, dari mulai mengaji, membaca Al-Quraan (tadarusan), sampai memberikan sepotong makanan bagi yang berpuasa. Tentu ini berkah bagi gue. Sebab, gue bisa mendapat nasi bungkus secara cuma-cuma. Tinggal nongkrong di masjid menjelang magrip, gue akan mendapatkan jatah nasi. Aku udu kaum duafa lo, cah.

Jelas, inilah  tabiat anak kos yang merayakan puasa di kota orang. Kalian juga gini kan?. Sama seperti gue?. Enaknya itu. Gue bisa bertindak sebagai penadah santunan nasi bungkus. (Tapi gue, bukan sejenis pasukan nasi bungkus. #Panasbung). Di lain pihak. Ada donator yang siap di ganjar pahala. Ya, kita larut dalam hingar bingar melakukan kebaikan atas nama kerukunan.

Baca lebih lanjut

Dari Journalistik Menjadi Buku


Cupu Reporter, pas ngeliput agenda tahunan Investor Summit tahun lalu di Grand City Surabaya.

Cupu Reporter, pas ngeliput agenda tahunan Investor Summit tahun lalu di Grand City Surabaya.

Gue tergolong sebagai mahasiswa murtad. Menyandang label mahasiswa cupu, dengan bersemedi dibawah fakultas ekonomi, lalu menyembah jurusan perpajakan. Kenapa gue murtad dari jurusan?.  Ceritanya, gue nggak mau magang di perusahaan cuma di jadikan B2 (Babu), terus di suruh kesana-kemari buat foto copy dan pekerjaan ini-itu yang ora jelas!.

Gue sempat denger cerita dari Ucup—teman se angkatan gue. Kalo dia magangnya malah parah banget. Di tempatnya dia magang. Entalahlah di perusahaan apa, gue ora ngerti. Tiap dia sampai ke perusahaan itu, dia cuma domblong doang, duduk-duduk di sudut ruangan sampek ngiler. Ucup nganggur, nggak ngerjain apa-apa di sana. Dari pagi sampai sore, yang Ucup lakuin cuma leyeh-leyeh di atas kursi. Kelakuane jan koyo bos. Badannya yang segede Bagong, membuat ucup semakin menjadi pemalas.  Kadang-kadang kalo dia haus, dia ngacir ke pentri buat bikin kopi. Nah, setelah kopi itu siap sedu, Ucup balik lagi ke mejanya, lalu nyalain sebatang rokok, kemudian mengisapnya pelan, penuh nikmat. Puuuhh…..

Baca lebih lanjut

Selulerrr!


@NotedCupu

@NotedCupu

Godaan terbesar bagi gue ketika ‘bermigrasi’ ke Surabaya adalah; kangen kampong halaman. Di saat gue kuliah seperti sekarang, nggak mungkin gue bisa leluasa untuk pulang.  Ndak ada hari longgar. Kalo berani-berani gue bolos kuliah, bisa-bisa gue di bacok sama Pak Dosen. Kalo pulang naik sepedah motor, jarak Surabaya ke kapung halaman itu, lima jam lamanya.  Jauh banget!. Makanya, kalo liburnya cuma jum’at sama sabtu, gue nggak mau maksi’in diri buat pulang. Sebab kenapa? Takut kecapekaan aja di jalan…
                Untunglah, sekarang ada telfon murah.
          Ada untungnya juga, beberapa tahun yang lalu, berbagai perusahaan telekomunikasi perang iklan merebut kati konsumen. Perang iklan itu pun berimbas pada perang tarif. Profaider yang satu melucurkan iklan, telfon semenit gratis sejam. Profaider yang satunya lagi, gratis telfon ke sesama operator. Persaingan pun berbuntut panjang, hingga menumbangkan salat satu profaider. Tarif telfon turun harga, gara-gara persaingan perusaha’an telekomunikasi kian menari-nari. Gue sebagai salah satu konsumen pemakai hp poliponik, merasa di untungkan akan kejadian itu. Pulsa bisa ngirit. Pengeluaran pun ndak sembelit…….

Baca lebih lanjut