Sarungmu Membunuh Sapi


si Tunjung (Sok Imut)
si Tunjung (Sok Imut)

Bagi umat islam, bulan puasa seperti sekarang ini, mementum yang tepat untuk memburu pahala sebanyak-banyaknya. Perburuan pahala ini, dari mulai mengaji, membaca Al-Quraan (tadarusan), sampai memberikan sepotong makanan bagi yang berpuasa. Tentu ini berkah bagi gue. Sebab, gue bisa mendapat nasi bungkus secara cuma-cuma. Tinggal nongkrong di masjid menjelang magrip, gue akan mendapatkan jatah nasi. Aku udu kaum duafa lo, cah.

Jelas, inilah  tabiat anak kos yang merayakan puasa di kota orang. Kalian juga gini kan?. Sama seperti gue?. Enaknya itu. Gue bisa bertindak sebagai penadah santunan nasi bungkus. (Tapi gue, bukan sejenis pasukan nasi bungkus. #Panasbung). Di lain pihak. Ada donator yang siap di ganjar pahala. Ya, kita larut dalam hingar bingar melakukan kebaikan atas nama kerukunan.

Baca lebih lanjut

Dari Journalistik Menjadi Buku


Cupu Reporter, pas ngeliput agenda tahunan Investor Summit tahun lalu di Grand City Surabaya.

Cupu Reporter, pas ngeliput agenda tahunan Investor Summit tahun lalu di Grand City Surabaya.

Gue tergolong sebagai mahasiswa murtad. Menyandang label mahasiswa cupu, dengan bersemedi dibawah fakultas ekonomi, lalu menyembah jurusan perpajakan. Kenapa gue murtad dari jurusan?.  Ceritanya, gue nggak mau magang di perusahaan cuma di jadikan B2 (Babu), terus di suruh kesana-kemari buat foto copy dan pekerjaan ini-itu yang ora jelas!.

Gue sempat denger cerita dari Ucup—teman se angkatan gue. Kalo dia magangnya malah parah banget. Di tempatnya dia magang. Entalahlah di perusahaan apa, gue ora ngerti. Tiap dia sampai ke perusahaan itu, dia cuma domblong doang, duduk-duduk di sudut ruangan sampek ngiler. Ucup nganggur, nggak ngerjain apa-apa di sana. Dari pagi sampai sore, yang Ucup lakuin cuma leyeh-leyeh di atas kursi. Kelakuane jan koyo bos. Badannya yang segede Bagong, membuat ucup semakin menjadi pemalas.  Kadang-kadang kalo dia haus, dia ngacir ke pentri buat bikin kopi. Nah, setelah kopi itu siap sedu, Ucup balik lagi ke mejanya, lalu nyalain sebatang rokok, kemudian mengisapnya pelan, penuh nikmat. Puuuhh…..

Baca lebih lanjut

Selulerrr!


@NotedCupu

@NotedCupu

Godaan terbesar bagi gue ketika ‘bermigrasi’ ke Surabaya adalah; kangen kampong halaman. Di saat gue kuliah seperti sekarang, nggak mungkin gue bisa leluasa untuk pulang.  Ndak ada hari longgar. Kalo berani-berani gue bolos kuliah, bisa-bisa gue di bacok sama Pak Dosen. Kalo pulang naik sepedah motor, jarak Surabaya ke kapung halaman itu, lima jam lamanya.  Jauh banget!. Makanya, kalo liburnya cuma jum’at sama sabtu, gue nggak mau maksi’in diri buat pulang. Sebab kenapa? Takut kecapekaan aja di jalan…
                Untunglah, sekarang ada telfon murah.
          Ada untungnya juga, beberapa tahun yang lalu, berbagai perusahaan telekomunikasi perang iklan merebut kati konsumen. Perang iklan itu pun berimbas pada perang tarif. Profaider yang satu melucurkan iklan, telfon semenit gratis sejam. Profaider yang satunya lagi, gratis telfon ke sesama operator. Persaingan pun berbuntut panjang, hingga menumbangkan salat satu profaider. Tarif telfon turun harga, gara-gara persaingan perusaha’an telekomunikasi kian menari-nari. Gue sebagai salah satu konsumen pemakai hp poliponik, merasa di untungkan akan kejadian itu. Pulsa bisa ngirit. Pengeluaran pun ndak sembelit…….

Baca lebih lanjut

Manusia Penyembah Jabatan


a-kursi wakil bupatiUcup terlahir dari rahim seorang ibu, berwujud bayi normal dengan bobot empat kwintal. Iya bukan bayi berukuran jumbo, melainkan takdir tuhanlah yang membesarkannya. Pasca ia dilahirkan, kulitnya masih berwarna merah jambu, indra penglihatannya belum bisa melek dengan sempurna. Ke dua tanganya pun masih mengepal membentuk sarung tinju. Begitu ia merengek ditempat tidurnya, kedua kakinya mancal-mancal selimut yang membalutnya. Tenaganya seperti keledai yang sedang kebelet kawin.
Pada saat ia kelaperan sehabis nangis, satu galon asi pun tandas dalam sekejap. Ternyata ia ke hausan. Tenggorokannya emang segede gorong-gorong lumpur lapindo. Lantas ibunya pun, kewalahan dengan pola pencernaan pada lambung si Ucup. Stok asi dalam payudara ibunya, tak mampu mencukupi. Akhirnya, dokter yang tak jauh dari rumahnya, menyarankan ibunya untuk memerah asi tambahan dari sapi piaraan dibelakang rumahnya.

Baca lebih lanjut

Tante Gue Roker


Sumber: kartun Ustad Hariri foto inilah.com

Sumber: kartun Ustad Hariri foto inilah.com

Sebagai anak sekolah yang memlilih jurusan ekonomi pada dasarnya gue harus ngerti bagaimana caranya berhemat. Maka dari itu, ketika ada tumpangan gratis dan nggak perlu ngeluarin duwit buat ngekos, gue seneng banget. Sudah genap empat tahun gue numpang ngiler di rumah paman gue. Untunglah, suadara gue di Surabaya bisa di andelin. Mereka (saudara) juga nggak setuju kalo gue ngekos. Mungkin kawatir, kalo gue kenapa-napa. Tapi kan gue bukan cewek, yang sudah ngerti bagaimana cara menjaga diri di belantara kota.
Biar nggak di kutuk jadi keledai, gue nurut aja sih apa kemauan mereka. Termasuk nurut sama orang tua juga. Lagi pula ortu di rumah juga nyaranin buat tinggal di rumah paman dan tante (dibaca: Bulek). Rumah tante gue sebenarnya juga nggak terlalu jauh dari kampus, 15 menit saja sudah sampai. Iya, gue numpang ngiler sekaligus buang hajat di rumah keputih, komplek kampus ITS.

Baca lebih lanjut