The Journey Masa Kecil


kaline urepTujuh tahun yang lalu, dimusim yang sama seperti hari ini. Siang-siang bolong sehabis pulang sekolah, gue main ke sawah untuk menerbangkan layang-layang hasil karya gue sendiri. Ini serius, gue nggak bohong. Mungkin pada waktu itu, gue adalah rival ketatnya Pak B. J. Habibie. Namun nahas, layangan itu bukannya malah terbang membumbung ke cakrawala, justru berbalik arah dengan meluncur ke dalam parit yang sedang berisi gemercik aliran air.
Dan teriakan konyol teman-teman pada waktu itu, “Wah… Dasar dungu lo, Cup,” komentarya, sambil mentoyor-toyor kepala gue. Anehnya, mendapat perlakuan penganiayaan begok kayak gitu gue malah ketawa sambil guling-guling di atas rerumputan. Malah saking asyiknya guling-guling, muka gue mendarat di atas tai kebo yang baru saja keluar dari mesin produksi bernama, pantat. Gue inget, tai kebonya masih anget banget dan fresh. Baunya juga mirip-mirip seperti kentut badak zimbawe makan kapur barus.

Baca lebih lanjut

Bapak dan Kampus Jalanan!


Keluarga besar @NotedCupu (paling kanan Bapak gue). Foto lebaran di rumah nenek satu tahun yang lalu.

Keluarga besar @NotedCupu (paling kanan Bapak gue). Foto lebaran di rumah nenek satu tahun yang lalu.

Perawakan badanya kurus. Sepintas memang tidak memiliki bakat sebagai seorang yang berbadan ideal. Hobinya yang suka menyisingkan lengan membuat, kulitanya pun dekil akibat ulah sinar matahari yang menyengatnya. Ciri-cirinya lagi. Orangnya bertipe koboy, yang liar disulap menjadi tertip. Pergerakanya pun mobile. Suka berpindah-pindah. Kerjanya, pergi dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Blusukan?. Iya. Apakah orang yang gue maksud ini Jokowi? Bukan. Tapi Jumiran.
Iya, inilah nama bapak gue. Jumiran. Menyulap si sapi yang liar menjadi jinak bin tertip. Bapak gue bukan berprofesi sebagai pawang sapi, atau binatang. Tapi sang penjagal hewan yang menduduki kursi sebagai eksekutor. Menebas leher sapi dan kambing yang akan disembeleh. Itulah usaha bapak dan ibu gue di rumah sana. PT. Njagal Sapi dan Kambing. Kalo nggak ada sapi, kadang ya kambing yang di sembeleh.

Baca lebih lanjut

Gulma dalam LDR


@notedcupu

@notedcupu

Pemerintah akhirnya membayar diyat, uang ganti rugi untuk menebus perkara Satinah di negeri Unta sono. Tentunya, banyak yang bangga dengan kabar ini. Termasuk gue. Pertama, gue berterimakasih atas peran pemerintah terhadap upaya penyelamatan ini. Akhirnya pertarungaan di menangkan oleh Gatot Kaca. Negeri unta kalah. Iya, gue kasihan aja sama anak-anaknya kalo semisal ibu satinah di pancung beneran. Nanti siapa yang ngurusin anak-anaknya kalo di tinggal ibunya?, Masak di urusi sama kak Seto Mulyadi, pasti doi entar kerepotan. Iya setidanya hati gue bisa ngertiin sesame kaum cowok.
Pada tahu kan, Satinah itu TKI? Ibu Satinah adalah satu dari sekian pahlawan devisa yang kerja di negeri Unta sana. Yang lebih fenomenal lagi, ibu Satinah keluar negeri, pergi jauh-jauh hanya demi sesuap nasi untuk keluarganya di rumah. Bayangin nih… harus kerja saja, mesti lari ke luar negeri banting tulang. Eh.. begitu kerja disana, tersandung kasus. Hoalah mesakne banget yo rek?. Beginilah kalo lapangan kerja di negeri sendiiri masih kacau balau. Ibu satinah rela meninggalkan anak beserta suami di rumah betahun-rahun.

Baca lebih lanjut

Dosa Demokrasi Indonesia


kampanyeDi negeri sebuah hutan, hiduplah beragam jenis binatang liar. Kekuasaan tertinggi di pucuk kepemimpinan, bukan dari binatang yang berukuran besar, seperti gajah. Bukan pula, dipimpin oleh kawanan hewan bertubuh kecil, seperti monyet. Tanpa demokrasi, tanpa pencoblosan melalui sebuah bilik suara, ke kuasaan langsung di amanahkan untuk hewan yang bernyali dan berdarah buas. Juga tak ada biaya, pemilu. Mungkin itulah cirri-ciri mempimpin yang punya sikap tegas yang ideal, mengambarkan sikap ketegasan.
Di hutan itu, tidak ada suara gonjang-ganjing menyoal kesejahteraan rakyat hewani. Urusan perut, asal makan dan kumpul saja sudah menterjemahkan kesejahteraan. Tanpa tending aling-aling, hukumnya bertindak tegas, siapa yang berani macam-macam langsung dibungkam, dan di terkam oleh sang raja hutan. Singa!. Otoriter? Mungkin iya. Tapi ajaibnya, meskipun disana hampir tidak ada pemilu, tapi nyatanya para warga hutan tetap rukun-rukun saja. Raja hutan itu, bertahun-tahun menjadi pepimpin yang di takuti, oleh sebangsanya.

Baca lebih lanjut

Sahabat Yang Urakan!


Kaki kami!

Kaki kami!

Ada kabar bahagia, pada pengen tahu nggak?. Seminggu lagi gue bakalan pulang ke kampong halaman. Selain untuk melepas kangen sama keluarga tercinta, disana gue bakalan liburan, keliling muterin kota kelahiran sampek gempor. Jadwal liburan gue banyak banget, mulai dari acara nyebur ke pantai, makan makanan khas kota Panggul seperti, jenang piteng dan sego tiwolnya. Puncaknya, bisa ketemu temen-temen seperjuangan.
Acara liburan ala pulang kampong ini sudah gue rencanin jauh-jauh hari lo, begitu tahu kalo senin depan ini tanggalnya merah muda, gue langsung nyusun rencana buat pulang kampung. Beberapa waktu yang lalu, sohib-sohib gue sudah gue hubungi untuk ikutan pulang. Yang pertama….. Sohib gue yang kuliah di STAIN Tulung Agung, bernama asli Ibnu, sudah meng-iyakan untuk ikutan pulang juga. Gue seneng banget, mendengar Ibnu ikutan pulang. Ibnu inilah segela tempat peraduan melepas pegal dan linu. Tangannya yang kekar segede aderai ini, biasanya gue berdayakan untuk menjadi tukang pijit. Baca lebih lanjut